Jawa Barat -mediagendangsumba.com,rabu 14 Oktiber 2026 pada acara berdasarkan pantauan media ini di Grup Tamansiswa jawa Timur oleh Wakil ketua Umum Tamansiswa yang berpusat di yogjakarta,ki.Abdullah Assegaf .SH.M.H mewakil ketua umum Prof.Dr Sry edy swasono menyerahkan buku karya Ki Hajar Dewantoro.
Pada acara Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa / Pengda Tamansiswa Jawa Barat (Jabar Jaya) serta Rakerda Bimbingan Tamansiswa Jabar Jaya diselenggarakan pada 13–15 Oktober 2026 di Bogor, Jawa Barat dengan tema "Guyub Dalam persatuan Bergerak untuk pendidikan
Yang sebelumnya telah melaksanakan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Wanita Tamansiswa bersama Perguruan Tamansiswa se-Jawa Timur diselenggarakan di Hotel Royal Orchid, Batu, Malang, pada tanggal 30 September – 1 Oktober 2026,yang di ikuti oleh tamansiswa jatim,bali ,NTT,Maluku,
Adapun tokoh-tokoh dan Pejabat yang Hadir sebagai berikut
• Ketua Umum Badan Pusat Wanita Tamansiswa, Nyi Tri Yuliyanti Setyasari
• Ketua Pengda Wanita Tamansiswa Jabar Jaya, Nyi Yuliati Soegiri
• Nyi Meuthia Hatta (istri dari Ketua Umum Perguruan Tamansiswa, Ki Sri Edi Swasono)
• Arahan dan petuah dari Ki Prof. Dr. Sri Edi Swasono (Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa
Secara garis besar, isi buku-buku tersebut terbagi ke dalam beberapa pokok pemikiran utama ki Hajar Dewantara diantaranya :
- Buku tentang Pendidikan (Ki Hajar Dewantara Bagian 1: Pendidikan)
- Konsep Pendidikan Nasional: Pendidikan harus berakar pada budaya bangsa sendiri, bukan meniru sistem pendidikan kolonial Belanda.
- Sistem Among: Metode pengajaran yang manusiawi dengan asas kemerdekaan, di mana guru bertindak sebagai pamong yang membimbing murid tanpa hukuman fisik.
- Trilogi Kepemimpinan:
• Ing Ngarsa Sung Tuladha (di depan memberi teladan)
• Ing Madya Mangun Karsa (di tengah membangun semangat/motivasi)
• Tut Wuri Handayani (di belakang memberikan dorongan moral) - Tri Pusat Pendidikan: Keselarasan pendidikan yang berlangsung di tiga lingkungan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.
- Kodrat Alam dan Kodrat Zaman: Anak-anak tumbuh berdasarkan kodratnya sendiri serta harus disesuaikan dengan tuntutan zaman.
- Buku tentang Kebudayaan
- Kerangka Kebudayaan Nusantara: Kebudayaan nasional dibangun dari puncak-puncak kebudayaan daerah yang luhur.
- Teori Trikon: Strategi pengembangan kebudayaan nasional yang terdiri dari:
• Kontinuitas: Berakar terus menerus pada sejarah dan budaya sendiri.
• Konvergensi: Bersatu padu dengan kebudayaan universal atau bangsa lain.
• Konsentrisitas: Tetap berpijak pada kepribadian sendiri di tengah pergaulan dunia (menjadi bagian dari alam raya). - Adaptasi, Bukan Adopsi: Sikap menyaring budaya luar secara selektif, mengambil unsur yang bermanfaat bagi kemajuan tanpa harus menjiplak total budaya asing.
- Tulisan Politik dan Jurnalistik (Contoh: "Seandainya Aku Seorang Belanda")
- Kritik tajam terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda.
- Penyadaran bahwa kaum Bumiputera adalah pemilik sah negeri yang memiliki kekuatan dan hak untuk merdeka.
Sebagai Figur Jurnalistik ki Hajar dewantara memberikan kritikan tajam pada Pemerintahan hindia Belanda waktu itu
Sebelum bernama Ki Hadjar Dewantara, nama asli beliau adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat.
- Lahir: Yogyakarta, 2 Mei 1889
- Latar Belakang: Berasal dari keluarga bangsawan Kadipaten Pakualaman, Yogyakarta.
- Pergantian Nama: Pada usia 40 tahun (menurut penanggalan Jawa pada 3 Februari 1928), ia melepaskan gelar kebangsawanan "Raden Mas" dan mengubah namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara.
Pada tulisan yang kontra dengan bangsa penjajah diwaktu itu dalam Surat kabar De Expres milik Indische Partij (IP) itu memuat catatan panjang yang isinya membuat pemerintah kolonial naik darah. "Als ik een Nederlander was" atau “Seandainya Aku Seorang Belanda,” begitu judul tulisan atas nama Soewardi Soerjaningrat yang terpampang pada edisi 13 Juli 1913.
Andai Ki Hadjar Orang Belanda
“Betapa menyenangkan, betapa nikmatnya bila dapat memperingati suatu peristiwa nasional yang begitu besar artinya. Saya ingin sekali menjadi orang Belanda, walaupun hanya untuk sementara saja…
Kita sekarang bersuka-cita oleh karena 100 tahun yang lalu kami terlepas dari jajahan kekuasaan asing, dan kesemuanya itu akan dilakukan di hadapan mata mereka yang hingga sekarang masih tetap dijajah oleh kami.”
Itulah sedikit nukilan dari "Als ik een Nederlander was" karya Soewardi Soerjaningrat yang sebenarnya sangat panjang.
Dimulai dengan gaya sindiran di permulaan, berlanjut dengan kata-kata yang lebih menikam, lalu dipungkasi dengan kecaman tajam:
“Sungguh, seandainya saya ini orang Belanda, maka saya tak akan pernah mau merayakan pesta peringatan seperti itu di sini, di suatu negeri yang kita jajah. Berikan dahulu rakyat yang tertindas itu kemerdekaan, baru sesudah itu kita memperingati kemerdekaan kita sendiri!”
Pro dan kontra segera terjadi setelah De Expres memuat tulisan Soewardi itu. Orang-orang pemerintahan dan pendukungnya tentu saja meradang. Tapi tidak bagi mereka yang menyimpan kegeraman yang sama seperti yang dirasakan Soewardi.
Meskipun lugas, Soewardi tidak membabi-buta dalam melakukan serangan. "Als ik een Nederlander was" membuktikan bahwa ia adalah seorang pemberani yang tangkas dalam menulis. Boleh jadi ia memang radikal kendati tidak melulu harus brutal.
Lewat tulisannya, Soewardi menampar, tapi bukan dengan sikap kasar. Ia tidak memaki, melainkan memberi kata-kata yang tepat, jitu, serta indah susunannya. Ada humor, ada sinis, ada ironi bercampur ejekan pedas yang jelas ditujukan kepada bangsa penjajah.
Tulisan Soewardi tidak hanya sekadar nyinyir atau berisi kecaman belaka tanpa solusi. Di dalam tulisannya terkandung pandangan dan upaya penyadaran yang bisa direnungkan, baik oleh pihak kolonial beserta kaum pendukungnya, juga oleh masyarakat Hindia yang masih terjajah.
Di tahun 1913 itu, Soewardi sudah membuka kesadaran tentang cita-cita kemerdekaan, sesuatu yang baru akan terwujud lebih dari tiga dekade kemudian,(Tim redaksi)



