Kodi Bangedo-Mediagendang sumba.com senin 14/9/2026 Secara sejarah dan legenda lokal, pohon randu sangat melekat dengan Desa Damaran, Kota Kudus. Menurut kisah asal-usul desa, dahulu wilayah Damaran merupakan hutan yang banyak ditumbuhi pohon randu raksasa. Di tengah pohon-pohon randu tersebut, terdapat benda bernama “Damar” yang memancarkan cahaya keindahan pada malam hari, yang kemudian menjadi cikal bakal penamaan Desa Damaran. Meskipun saat ini pohon purba tersebut sudah jarang ditemui karena perkembangan kota, kisahnya tetap dihormati sebagai sejarah sakral masyarakat setempat.
Dalam kepercayaan masyarakat Kudus dan sekitarnya (budaya pesisir Jawa Tengah),
Pohon Randu Alas (Bombax ceiba) yang berumur ratusan tahun sering kali dipandang sakral dan dikeramatkan dinasti kerajaan Mojopahit
Beberapa mitos yang melekat di antaranya,Pantang Ditebang Sembarangan: Warga percaya menebang pohon randu keramat tanpa ritual pengetukan atau doa keselamatan (selamatan) dapat mendatangkan musibah bagi penebang maupun kampung tersebut.
Dalam babat sejarah Raja-Raja Mojopahit seorang Mufti Kodi Jafar Shodiq(Sunan Kudus) yang merupakan bani wali dari jawa keturunan Arab,india,cina,beliau merupakan salah satu bani wali yang memprakasai pemotongan Hewan harus Dengan kerbau jantan atau kerbau yang layak dikonsumsi masyarakat Jawa (jaus) pada waktu itu yang beragama hindu dan budha maka beliau tidak memperkenalkan potong sapi demi menghormati ajaran hindu pada waktu itu sehingga beliau sebagai mufti Kodi yakni Jafar shodiq (Jaffa) memberikan isyarat kurban kerbau sampai saat ini masih berjalan lancar dikudus yang tidak dari Jarak darat dari Kabupaten Kudus ke wilayah Kedu (Kecamatan/Desa Kedu di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah) adalah sekitar 139 kilometer.
Jafar shodiq (sunan Kudus ayahanda Ndara(Bindara) wunda alias Penembahan kodi sesorang saudagar bani wali yang mengeliling nusantara dan luar negeri yang merupakan Mufti Kodi di kerajaan demak yang dipimpin oleh Pamannya suami bibi-nya yakni Raden Fatah.
Sebagai lanjutan itu oleh Raden Jaffar Shodik (Sunan Kudus) salah satu putranya Raden Ngudung bin Sayyid Ali Murthadlo alias Mba Ali=mbali alias Mbah Dita (Raden Pandita Bima ),memeliki batu Keramat yang sampai saat ini ada di mesium Kudus jawa Tengah
Mengawali sejarah Quqodimah judul diatas bahwa Dahulu di abad ke 18 diperkirakan tahun 1820 M tiga Nahkoda (Ana Koda ) yakni Ana Koda (Nahkoda) Wunu,Ana Koda Maha,Ana Koda baya ketika nahkoda tersebut merupakan saudagar kaya yang menjelajahi nusantara merekan merupakan keturunan campuran Bugis,Arab dan jawa,sumatera diabad 18 tiga nahkoda mereka berlayar dari Ambu gaga,ambu Purere ende- Flores menujuh Pulau sumba ,bersama saudara mereka diantara daeng palalo,daeng maga,dan Puang umbu Ali,puang Ali (R Tory) Daeng Abdullah Matturu,Puang bodak(pua Bodak),Daeng palalo, mereka bermarga al jailani dan Al Magribi al Mekki,Waro Lenggo dari bugis bone yang bermarga al jailani, yang merupakan satu datuk dari daeng yusuf al Makasar yang menjadi tahanan belanda di afrika dan akhir hayat nya dikembalikan ke makasar dari kerajaan gua dan Tallo,
Istilah Kalimat manu Longge dalam dealek kebiasa orang kodi maulengge serta istilah arab Maulana,pada pandangan filosofis makasar disebut. ayam jantan (sering disebut Manu’ Jago dan kalau manu longge nya kepala nya ayam jago atau Manu’ Rannu) bukan sekadar hewan biasa. Ayam jantan dipandang sebagai lambang maskulinitas, keberanian, dan kesiapan untuk bertarung demi mempertahankan kehormatan atau harga diri. Hal ini sangat berkaitan erat dengan prinsip hidup masyarakat setempat, yaitu Siri’ na Pacce (menjaga harga diri dan teguh pendirian).
Yosef Rangga Lendu menjelaskan bahwa Suku Manu Longge menaungi sejumlah wilayah dusun yang tersebar di beberapa desa, antara lain:
Dusun Habu Wondo (Desa Lete Loko)
Dusun Makonda (Desa Merekehe)
Dusun Gallu Rande (Desa Waikadada)
Dusun Wawikatupi (Desa Waikadada)
Dusun Rada Daha (Desa Lete Loko)
Dusun Ice Daha (Desa Waikaninyo)
Berdasarkan silsilah dan garis keturunan leluhur, tradisi sakral ini terus dijaga keutuhannya oleh tiga tokoh adat (Rato), yakni Rato Pela, Rato Tari, dan Rato Guhi.
Yosef Rangga Lendu menegaskan bahwa momentum ritual ini bukanlah sekadar hiburan atau ajang pemborosan materi, melainkan wujud komitmen bersama untuk mempererat tali silaturahmi serta merawat keberagaman tradisi. Guna menjaga kelancaran acara, pihak penyelenggara telah berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat dan aparat keamanan agar seluruh rangkaian ritual berjalan aman, tertib, dan kondusif ujar diawak media .
Dalam babat penelitian media ini bahwa bahwa peletakkan pilar pohon adat dengan sebutan pohan Randu (pohon Kapok) dalam bahasa mojopahit bahkan sampai saat ini sampai saat pohon Randu pertama kali yang dijawa di daerah kudus (jawa tengah) serta penanaman pohon Randu dan Batu kramat dalam ritual adat lewat pembacaan Tahliyo (Tahlilan) membacakan doa-doa leluhur yang sudah mendahuli kita yang sampai saat di suku kodi dikabupaten sumba Barat Daya yang tidak terlalu jauh dengan pulau sumbawa (Bima) hanya membutuh 3 atau 4 jam perjalan laut
Hal yang ditambahkan Oleh Kapolsek kodi Bangedo IPTU Syarif Mukmin bersama Anggota Brigpol Ibra menghadiri kegiatan pesta adat Woleka dalam pembentukkan pilar Adat pohon Randu dan Batu sakral Adat di Dusun Ice Daha desa waikaninyo kwc.Kodi Bangedo kab.Sumba Barat Daya yang dilaksanakan oleh Suku parona ( Pararaton ) Maulongge =Manu Longge atau Maulana
Kehadiran Kapolsek dalam acara ritual adat Woleka tersebut sebagai bagian dari kehadiran langsung Polsek kodi Bangedo untuk bersama-sama mejaga tradisi adat dan budaya suku kodi serta untuk memastikan kegiatan berjalan aman dan kondusif.
Dalam kesempatan tersebut, Kapolsek Bangedo berinteraksi langsung dengan para tokoh adat maupun pihak parona adat maulongge untuk menyampaikan pesan-pesan kamtibmas
Yos Rangga Lendu mengucapkan terima kasih atas kedatangan kapolsek kodi bangedo dalam acara penanaman pohon randu yang sakral ini maupun batu yanh sakral ini merupakan hak sah kepemilikkan lahan yang telah di beli dari kampung Adat Parona (paraton) Praburoro dan kampung adat Praburoro di dirikan oleh Adi Pati tora bin Ki Rangga dan R.Kedu generasi ke 8 dari Penembahan kodi alias Bindara wunda (Ndara Wunda) putra sunan Kudus ujarnya diawak media,karena selama ini belum ditananami pohon randu dan batu yang sakral imbuhnya
(Tim Redaksi Gus Mone AL Mughni)



